Senin, 01 Mei 2017

MY WEDDING

diposkan oleh tyascil di 15.34 0 komentar
05 Maret 2017
Entah harus mulai dari mana yang jelas seneng banget bisa cepet diketemuin sama orang yang bakal sehidup semati sama gue (in syaa Allah). Harus cerita dari mana ya. Ga ngerti lagi sama yang namanya jodoh. Yang bertahun-tahun ditunggu kalah sama yang seminggu ketemu. Kita gapernah tau takdir kita. Ga nyangka banget ketemu sama orang yang sama sekali belom pernah gue temuin dan mulai tanggal 5 Maret 2017 dia yang selalu gue liat tiap mau tidur dan bangun tidur. He is Fajar Tanjung, my husband.
Persiapan pernikahan yang engga lama tapi alhamdulillah lancar semuanya. Walaupun engga dibikin acara besar, cuma akad dan undangan ke temen2 terdekat. Banyak omongan orang-orang tapi seinget yang gue pernah baca kalo hijrah itu emang banyak tantangannya. Ya orang mikir apa-apa antepin aja sih yang penting kan kenyataannya gue nikah in syaa Allah niat ibadah karna Allah (aamiin)
Sebulan pertama, ada aja berantem-berantem kecil. Kalo diinget-inget lucu, hal kecil aja didebatin, dijadiin bahan berantem. Bulan kedua udah mulai makin ngerti satu sama lain. Anw, gue kenal sama suami gue ini cuma sekitar 2 bulan terus kita nikah. Cepet banget ya? Khawatir aja kalo kelamaan malah kejadian hal-hal yang engga diinginkan.
Semakin dijalanin semakin asik, semakin seru. Berantem-berantem dikit mah wajar ya, pernah sampe gue nangis-nangis di mushola kantor abis solat. Ceritanya ngadu sama Allah, karna kalo ngadu ke orang kan sama aja buka aib suami ataupun keluarga. In syaa Allah gue belajar terima kekurangan suami gue sebagai kelebihan dia.
Sejauh ini sih jujur capek ngurusin rumah tangga tapi nikmatin aja lah. Kuncinya cuma ikhlas sama apa yang dikerjain biar jadi ladang amal (in syaa Allah).
Allah baik sama gue ngenalin gue sama suami gue, cepet-cepet nemuin gue sama jodoh. Jadi gue harus banyak banget bersyukur karna bisa ibadah lebih cepet. Btw, sejauh ini belom ada tanda-tanda kehamilan. Buat yang baca blog gue, doain biar gue cepet dapet baby yaaa (aamiin).
Read More...

Kamis, 13 Desember 2012

my special day, 101212

diposkan oleh tyascil di 07.12 0 komentar

Hari ini gue ngerasa hidup dalam dongeng yang kaya mimpi gitu. Kaya hidup tuh gue yang nentuin alur ceritanya. Sumpah demi apapun gue seneng banget hari ini. Sakit juga engga berasa saking senengnya;;)
Pagi ini saat aku membuka mata, kuingin matahari segera menampakkan sinarnya yang hangat. Aku ingin segera bertemu pangeranku. Pagi ini kuawali dengan senyum ceriaku, bukan senyum kepalsuan seperti hari-hari biasa. Aku memulai hari ini dengan semangat. Aku memang sedikit terlambat ke kampus tapi itu tidak masalah. Hampir setiap 15 menit sekali aku menengok jam di handphone kesayanganku.
“Kenapa sih jam 11 itu lama banget?” gerutuku.
“Lo kenapa pengen cepet-cepet balik?” tanya Asti.
“Bukan pengen pulang, tapi pengen ketemu pangeran,” jawabku sambil senyum-senyum.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10.45, akupun mulai gelisah tidak sabar ingin bertemu sang mantan yang masih sangat aku sayangi. Aku tau, hari ini aku akan menjadi perempuan super jahat yang pergi bersama kekasih orang lain demi kebahagiaanku. Aku tidak pernah menganggap perbuatanku ini salah karena aku memang tidak ikhlas saat memutuskannya, dulu. Aku memutuskan karena memang tidak ada pilihan lain. Ah sudahlah, yang lalu tidak usah dibahas lagi.
Akhirnya kelas hari ini selesai juga, aku langsung segera menghubungi Fiyyan. Saat aku menelfonnya, ternyata mba-mba operator berkata, “Nomor yang anda tuju sedang sibuk.” Aku telah berusaha menelfonnya beberapa kali, tapi tetap saja begitu. Akhirnya kuputuskan untuk mengiriminya pesan singkat. Dan tak lama kemudian nomornya sudah dapat dihubungi kembali. Kami janjian di Halte KFC Lenteng Agung. Tanpa berlama-lama aku langsung mencari teman menyebrang untuk menuju TKP.
Sesampainya di KFC, agak lama aku menunggu dan hadirlah seorang pangeran yang sampai saat ini masih aku harapkan. He looks more handsome. Agak lama juga kami berpikir ingin pergi kemana, tak lama kemudian Fiyyan langsung menjalankan si biru miliknya. Aku bertanya, “Tasnya gede amat, isinya apaan? Masa nginep  semalem aja pakaiannya sebanyak itu.” Ia hanya terdiam. Matahari siang itu begitu menyengat tapi aku sangat rindu padanya. Kuberanikan diri untuk bertanya, “Gue boleh meluk lo?” Lama sekali ia terdiam, dan saat keluar dari perkampungan akhirnya ia menjawab, “Sekarang boleh peluk.” Tanpa malu-malu aku langsung memeluknya, mencium aroma tubuhnya yang khas.
“Rumah Setya udah kelewatan belom?” tanya Fiyyan.
“Belom,” jawabku singkat.
Fiyyan pun melaju ke arah rumah Setya. Saat sampai, kupikir ia ingin ke rumah Setya tapi ternyata ia hanya ingin melewatinya. Ia membawa motor kesayangannya itu menuju ke arah rumahku. Ia menyuruhku untuk menaruh laptop dan mengambil helm. Kami berencana untuk hujan-hujanan.
Sesampainya di rumah, ia tidak berhenti persis di depan rumahku. Tapi ia berhenti di satu rumah sebelum rumahku. Dan ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu.
“Wah gede banget tedy bear-nya,” kataku seraya mendekap boneka yang diberikan oleh Fiyyan.
Tak lama kemudian pemilik rumah keluar, si anak balita yang sering aku ajak bermain bersama sang ibu. Mereka hanya terdiam melihatku. Tanpa berlama-lama membuang waktu, Fiyyan menyuruhku untuk cepat-cepat ke rumah untuk menaruh boneka+laptop dan mengambil helm.
Setelah itu kami pun berputar-putar tidak jelas dan pada akhirnya kami menuju ke UI. Disana Yuni, kekasih Fiyyan, menelfon Fiyyan. Dan bete-ku mulai keluar. Tadinya aku memeluk Fiyyan tapi mendengar mereka berbincang-bincang lewat telfon, rasanya aku ingin lompat dari motor saat itu juga. Aku melepaskan pelukan seraya menutup kaca helmku dan memasang muka bete. Tapi lama kelamaan aku pun menangis.
Selesai menelfon, Fiyyan memberhentikan motornya entah dimana. Ia menengok ke arahku dan berusaha membuka kaca helmku tapi ku tepis tangannya itu. Ia pun melanjutkan perjalanan sambil menarik tanganku, agar aku memeluknya kembali. Tapi aku selalu melepaskan pelukkan itu. Ia pun mengajakku untuk makan bakso dan aku mulai dapat tertawa kecil.
“Eh ketawa,” ledek Fiyyan.
Dulu selama pacaran, kami tidak pernah seromantis ini. Setelah putus, baru aku merasakan ke romantisan itu. Aku serasa berpacaran dengan Fiyyan lagi. Tidak ada acara suap-suapan sih tapi acara sok so sweetnya ada yaitu saat aku mengelap keringat Fiyyan dengan tisu. Saat ingin mengelap aku berkata, “Yah so sweet deh nih.” Dengan cepat Fiyyan menjawab, “Gamau? Yaudah gausah.” Aku pasti maulah, kapan lagi ada acara so sweet so sweet-an seperti sekarang ini. Fiyyan berkata bahwa Yuni memberikannya kue ulang tahun waktu itu, ia berharap aku yang memberikan. Dalam hati aku berkata, “Kalo gue masih jadi pacar lo, gue bela-belain ke Cikampek cuma buat ngasih kue ulang tahun yang ga seberapa itu.”
Tak lama kemudian hujan pun turun, Fiyyan mengajakku pulang tapi hujan begitu deras. Aku sempat dilema, pulang sekarang atau nanti. Tak perlu berpikir lama, akhirnya aku memutuskan untuk hujan-hujanan ke rumah Setya. Fiyyan memberikan jas hujannya kepadaku sambil kugendong tasnya dipundakku. Di jalan, Fiyyan baru mengatakan kepadaku kalau ia tidak kuat dingin. Aku tidak tega melihatnya kedinginan, kepeluk ia erat-erat. Dingin masih menusuk sampai ke tulang. Aku ingin memberikan jas hujan kepada Fiyyan, tapi ia tidak mau. Kami tetap menerobos hujan agar segera sampai dan dapat berganti baju.
Sesampainya di rumah Setya, ramai oleh teman-teman kampusku yang sedang mengerjakan tugas. Dengan pedenya aku berbincang-bincang dengan Fiyyan di ruang tamu tanpa membantu teman-temanku mengerjakan tugas. Fiyyan sempat berkata, “Mau cium pipi.” What’s mean?
Setelah hujan reda, Fiyyan mengantarku pulang ke rumah dan bertemu dengan ibuku sebentar. Rasanya aku tak ingin berpisah dengannya. Aku ingin selalu bersamanya. Sekarang, aku bisa memeluk boneka darinya dan menganggap itu adalah Fiyyan
Read More...

Kamis, 08 November 2012

Bersiap Pergi

diposkan oleh tyascil di 08.06 0 komentar
Aku sudah memutuskan kapan aku harus pergi, pergi selamanya dari hidup Iqbal. Aku tak sanggup harus terus berlama-lama menyakiti perasaan Wanda. Lebih baik aku sendiri yang menanggung sakit ini. Walaupun aku membenci Wanda, satu hal yang perlu kalian ketahui. Aku ini sama-sama perempuan biasa seperti Wanda yang dapat merasakan sakit hati apabila dikhianati. Aku tidak ingin jika suatu saat nanti aku berada diposisi Wanda. Pasti itu amat sangat menyakitkan.
"Kalo nanti, suatu saat, tiba-tiba gue ilang, jangan hubungin gue ya. Berarti itu saatnya gue harus pergi. Gatau sanggup apa engga tapi bisa gabisa harus bisa. Gue semakin rapuh kalo harus terus kayak gini, jujur gue gakuat. Gue cemburu kalo lo lagi sama Wanda padahal gue udah bukan siapa-siapa lo haha cewe bodoh emang gue mah," kataku sambil menjatuhkan beberapa butir air mata.
"Hemmmm," Iqbal hanya mengeluarkan suara itu.
"Kenapa engga komentar? Beban gue banyak banget. Gue ga cuma mikirin perasaan gue sendiri. Gue juga mikirin perasaannya Wanda, itu yang bikin gue semakin engga kuat. Gue emang gasuka sama Wanda bahkan bisa dibilang gue benci sama dia, tapi gue juga mikir kalo sekarang gue ada di posisi dia dan gue mikir kalo gue juga dikaya giniin sam orang nantinya. Gue gamau," jelasku panjang lebar menahan air mata.
"Terus nanti apa yang bakal lo lakuin?" tanya Iqbal singkat.
"Setelah gue pergi? Gue gatau bakal ngapain dan kaya gimana, mungkin gue gila. Sebenernya gue pengen banget pergi sekarang tapi gue masih punya rencana yang belom gue selesaiin," jelasku pada Iqbal.
"Apa rencana lo?" tanya Iqbal ingin tahu.
"Buat ultah lo nanti tanggal 24 November, mungkin setelah itu gue langsung pergi kok gaakan ganggu hidup lo lagi dan bikin lo berantem mulu sama Wanda," tangisku terdengar sangat jelas.
Iqbal hanya dapat terdiam, mungkin dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi padaku nantinya. Sejujur-jujurnya, aku hanya ingin Iqbal tidak mendapatkan Wanda karena aku tidak mendapatkan Iqbal. Tapi aku tidak sejahat itu, hanya keinginan tapi aku tidak akan mungkin menghancurkan hubungan orang kalau orang itu tidak macam-macam denganku.
Keesokan harinya, Iqbal memintaku untuk mengirimkan foto-foto jaman kami pacaran dulu. Saat kutanya untuk apa, ia hanya menjawab, "Gue kangen sama lo, kangen." Karena aku tidak tega mendengar suaranya yang seperti itu, maka ku kirimkan sebagian foto-foto kami tetapi ia meminta semua. Akhirnya ku kirimlah semua foto.
Semenjak aku mengatakan semua yang akan kulakuan, Iqbal semakin baik kepadaku. Kami sering mengirimkan voice note akhir-akhir ini. Hanya suara itu yang dapat aku dengar saat aku kangen dengan Iqbal. Aku sudah tidak dapat bebas menelfon, seperti dulu:')
***
Iqbal: lo kan sering cerita tentang Kevin, sekarang gue boleh cerita tentang Wanda ngga?
Dalam hati aku berkata, "Lo tuh bego atau tolol sih? Jelas-jelas gue gasuka sama dia, kenapa lo mau cerita tentang dia ke gue?"
Tania: yaudah cerita aja.
Iqbal: nanti ya gue cerita.
Malam-malam seperti biasa, Iqbal menelfonku. Ia tidak menceritakan tentang Wanda, melainkan tentang apa yang sedang ia alami. Aku tidak mengerti persis apa maksud dari semua ceritanya. Yang jelas setelah mendengar semuanya, dadaku terasa sesak dan tidak bisa bernafas. Iqbal memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak bisa berkata apapun. Sakit. Sakit sekali. Setelah aku dapat bernafas dengan stabil, Iqbal meminta maaf padaku. Suasana memanas dan kami saling mencoba mencairkan suasana.
Read More...

Minggu, 28 Oktober 2012

TERTATIH

diposkan oleh tyascil di 13.47 0 komentar
Aku sendiri dalam kesakitan ini. Entah sanggup atau tidak, pasti akan ku jalani. Ini hidupku, ini semua rencana Allah. Mungkin Allah akan memberikan keindahan yang benar-benar indah pada waktunya nanti. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalaupun Allah memberikan kesempatan untuk aku mengatur hidupku sendiri, mungkin aku tidak akan pernah mengerti arti kehidupan.
Tengah malam entah ada angin apa Iqbal menelfonku dan berbincang-bincang denganku.
"Eh, Wanda sms buat lo nih."
"Apaan?"
"Pi...."
"Gak ah, itu buat lo!"
"Dengerin dulu nih. *Pi, kok sibuk? Yaudah buat yang lagi telfonan keep spirit buat job-nya.* Nahloh ketauan lu."
"Hah? Kok gue? Kan lo yang nelfon."
"Gue yang nelfon? Pulsa gue? Yaudah ah matiin-matiin. Assalamualaikum."
Dengan sopannya Iqbal menutup telfon tanpa ia tau perasaanku. Aku hanya dapat senyum sambil menangis mendapat perlakuan seperti itu. Kalau aku ingin marah-marah, siapa aku. Apa hakku marah-marah kepadanya. Setelah itu Iqbal menelfon Wanda kemudian Iqbal memberitahuku agar tidak menghubunginya dulu selama seminggu.
Keesokkan harinya aku lupa, aku menelfon ke nomer Iqbal dan ternyata Wanda yang membawa nomer Iqbal. Akhirnya keributan antara kami bertiga pun terjadi. Wanda marah kepada Iqbal, Iqbal marah kepadaku. Sampai iqbal melarangku menghubunginya lagi.
5 hari berjalan dengan tidak lancar, setiap hari aku selalu marah-marah tidak jelas. Aku hanya butuh sapaan Iqbal. Malam itu tepat sekali teman Wanda mengupdate status dan menyinggung masalah yang sedang aku hadapi. Dikesempatan itu lah aku memulai semuanya. Aku menceritakan semuanya kepada teman Wanda, membenarkan semuanya karena aku dianggap perusak hubungan orang.
Iqbal: Mau lo apa sih, Tan? Lo mau temenan sama gue apa mau bikin masalah makin runyam sih?
Tania: Gue mau temenan! Gue cuma gasuka kalo dibilang ngerusak hubungan orang karna gue emang gapernah ngelakuin itu."
Iqbal: Terus lo kenapa begitu? Kalo lo ngikutin apa kata gue pasti gabakal dibilang apa-apa sama orang. Lo itu ga ceroboh tapi lo sengaja kan?
Tania: Dulu kan gue pernah nyuruh lo bilang ke Wanda biar dia minta maaf sama gue tapi lo doang yang ngewakilin, akhirnya gue nyuruh temen dia biar bilangin ke Wanda tapi emang kayaknya dia gamau. Yaudah gue pikir, biarin aja deh daripada ngga ikhlas.
Iqbal: Yaudah terserah lo! Jangan pernah contact gue lagi! Gue siap lo bunuh secara perlahan!
Tania: Mungkin orang mikir lain tapi maksud gue cuma begitu.
Iqbal: KALO LO MASIH NURUTIN EGO LO, GA AKAN BERJALAN SEMUA KEINGINAN LO!
Tania: Jadi gue salah?
Iqbal: SEBENERNYA LO GA SALAH TAPI KARNA EGO LO, KESALAHAN SEMUA MEMUNCAK DI LO!
Tania: Terus gue harus diem aja?
Iqbal: Ya lo berfikir aja apa yang bakal ngerusak keinginan lo, ya lo hindarin. Lo masih butuh gue gak?
Tania: Yaudah gue bakal nyimpen sakit hati gue sendirian. Iya gue butuh, butuh banget:(
Iqbal: Paling engga o berfikir untuk kebutuhan lo dulu jangan sampe yang lo butuhin malah ngejauhin lo.
Tania: Oke gue ngerti. Gue bodoh banget sih, selalu nyusahin lo.
Iqbal: Serah lo sekarang mau gimana. Oke, lo menang. Gue ngaku kalah, silahkan kalo lo mau hancurin hidup gue.
Tania: Engga, gue gamau ngancurin lo. Gue sayang sama lo, gabakal gue tega.
Iqbal: Tapi gue mohon, kalo pun gue harus sujud di kaki lo bakal gue lakuin asal jangan sakitin orang lain. Lo cerita apa aja ke temennya Wanda?
Tania: Gue cuma cerita dari awal kita jadian sampe waktu kita putus pertama. Terserah deh sekarang lo mau bilang apa ke Wanda, ngomongin apa tentang gue, ngejelek-jelekin gue. Bebas!
Iqbal: Plis gue butuh waktu, gue ngedrop banget!
Seiring berjalannya waktu, emosi kami mereda dan kami kembali berteman seperti biasa. Aku tetap menyimpan sakit hatiku. Iqbal tidak akan pernah tau bagaimana rasa sakit yang kurasa. Mungkin dia akan merasakannya juga kalau karma datang padanya. Aku masih tetap dapat berkomunikasi dengan Iqbal secara diam-diam. Entah apa yang akan terjadi kalau kejadian itu terulang kembali.
Read More...
 

Cerita Tyas Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea